Penerimaan Anugerah Sagang 2011

Penerimaan Anugerah Sagang Katagori Penelitian Budaya, dengan Judul : Meramu Tradisi Melayu dalam Cerita Pendek: Upaya Kreatif Melindungi Generasi dari Kealpaan Tradisi.

Simposium Nasional Hasil Penelitian dan Inovasi Pendidikan 2011

Mengikuti Simposium Nasional Hasil Penelitian dan Inovasi Pendidikan Tahun 2011 di Denpasar Bali. Sebagai utusan SMA Cendana Pekanbaru.

Galleri Karya

Karya-Karya Bambang Kariyawan YS MPd sudah tersebar di berbagai media, baik lokal maupun nasional. Termasuk seabrek prestasi lomba baik tingkat lokal maupun nasional

Bersama Penulis-penulis FLP Riau

Salah satu agenda usai diskusi bersama FLP Riau, yang dihadiri oleh mantan Ketua FLP Mesir Dr. Ardan

Juara I Lomba Guru Kreatif Tingkat Nasional

Bambang Kariyawan tidak saja dikenal kreatif dalam berkarya, sehingga menempatkan dia menjadi guru yang berprestasi dan tidak jarang selalu mengharumkan nama Riau di tingkat nasional

Senin, 04 Juni 2012

Melukis Ilmu di Kanvas Harap


Melukis Ilmu di Kanvas Harap

Sebingkai huruf tersangkut pada purnama menakung
Sehamparan kata bergelayut di ujung kuas sejarah
Serimbun kalimat bertabur senandung kelam
Warna-warni alinea membungkam cahaya
Menjadi buku-buku gelisah
Teronggok kusam hanya setakat ucap
Goresan pelukis tersengal segala yang kusut
Dipunggah dengan tersungut-sungut
Memancang tonggak menyusun kata
Membungkus senja berganti fahar
Mengirimkan curahan gulungan ilmu
Membongkar galau yang membuncah
Lukisan ilmu menyemai impian
Siluet harapan hadir di sisi manusia pembaca
Meneguk huruf-huruf terangkai menjemput masa gemilang
Menakik sebatang di pancang cahaya
Peluh lelah pembaca kata menerokah angkasa
Mendayung horizon pucat yang telah lama diperam

Bijak dan Marwah:


Bijak dan Marwah:
Kepada Raja Ja’far dan Engku Putri Hamidah

Titah terucap mengalir biru dalam bijakmu
Sanggahan adat membatu dalam amarahmu
Dua kutub membiru dalam kekuatanmu
Titah dan sanggah bermain duka dalam bijak dan marwahmu
Meretas dua sayang. Mengguris dua hormat. Tegas dan lembut tergadai.
Putus terbuang dalam pusaran waktu.

Bocah Nanar di Ujung Kampung


Bocah Nanar di Ujung Kampung

Kosong … entah apa yang diteroka
Bukan gemilar permaidani di hadapan
Tapi mozaik lekukan bumi
yang seharusnya indah menjadi ternoda
Bocah itu menarik nafas tak beraturan
Paru-parunya telah tersumbat duka
Telah hilang fragmen bahagia
Yang tinggal hanya kepingan sesak
Mengambil masa depan yang tercerabut
Duka mencepatkan kelam
Semburan bumi memagut pilu yang tercecer
Bocah itu hanya menyimpul angan
Terbayang daur ulang takdir dihadapan
Lekukan bumi menjadi teman
Menari bersama dalam lentikan pasir
Lumpur menjadi peneman keluguan
Biarlah nanar tapi impian tetap tersemai
Penulis:
Bambang Kariyawan Ys.
Guru SMA Cendana Pekanbaru
085265437316

BUDAK-BUDAK BERKELINDAN


Puisi Lingkungan Hidup
BUDAK-BUDAK BERKELINDAN
(Bambang Kariyawan)


Budak-budak berceloteh bisu ungu dalam riuhmu
Riuh rendah membicarakan Semenanjung Bumi Bertuah yang semakin murung
Celoteh tentang peperangan ombak yang galau dan pantai yang terendam
Pantai-pantai putih yang telah langkah untuk dijejak
Pelabuhan-pelabuhan kayu murung meranggas patah
Gemuruh ombak menjadi tontonan bukan sahabat lagi
Budak-budak berseloroh menghempas dalam buihmu
Seloroh tentang pasir-pasir yang berlarian ke negeri seberang
Karang-karang termangu menggulung kenangan yang mengigau
Seloroh gesekan nyiur dan cemara laut yang gelagapan menerima kedatangan orang-orang tak dikenal
Budak-budak bertutur abu-abu sunyiku dalam gelombangmu
Sunyi menepi dari perahu kelam yang semamput
Sesak kalap mendayung badai
Tutur kelong dalam kehampaan jelaga malam yang membeku
Nelayan-nelayan menjadi gagu menyaksikan laut telah lebam
Budak-budak bersenandung malamku terpias dalam buliran riakmu
Riak-riak gelombang telah berkarat menghempas di pantai yang layu
Senandung angin berpusaran menimbah siang dalam hitungan angin
Cemara laut telah bisu mendiamkan angin
Mencari rimbunan bakau yang tersembunyi mengganti harapan yang telah memutih
Budak-budak berkelindan dalam laut yang diam. Budak-budak bercengkerama dalam senandung camar. Tak habis pusaran membeliung dalam hitungan senja.
Hingga palung hatiku menjerembabkanku dalam irisan sunyi.

CAHAYA ITU BERNAMA MUHAMMAD


CAHAYA ITU BERNAMA MUHAMMAD
(Bambang Kariyawan Ys)

Ada satu bintang di antara gemintang
Berkelip indah di antara yang terindah
Ada sinar cahaya di antara gemerlap cahaya
Memancar benderang di antara  kemilau

Cahaya itu hadir
Ketika kegelapan menghadirkan gelisah
Ketika kemungkaran menjadi kebiasaan
Ketika kebodohan tak mampu  dirobohkan

Cahaya itu datang
Memberi nafas ketenangan
Meniupkan debu-debu kejahiliyahan
Menegakkan ilmu di atas ilmu

Cahaya itu … bernama
Muhammad

Karena Kita Lupa Membaca:


Karena Kita Lupa Membaca:
Kepada Kita di Masa Kini

Lantas tak sempat membaca kehampaan memutih dalam ketahuanku.
Gemeretak alam menjadi liar dalam laramu
Aku menjadi warna semu dalam rasamu
Waktuku terbuang dalam air mata bisumu
Mulutku tak membaca.
Huruf-huruf tak habis dibaca.
Hingga setiap kata yang seharusnya dibaca kembali menduka.



Penulis:
Bambang Kariyawan
Guru SMA Cendana Pekanbaru
Aktif bergabung di FLP Riau dan Minda Creative Writing

Ketobung Dah Sumbang Berbunyi


Puisi Budaya
Ketobung Dah Sumbang Berbunyi
(Bambang Kariyawan Ys.)

Ketobung ditabuh menyayat pekat dalam belianmu
Nadanya tak beraturan diberangus zaman
Jemari penabuh terketuk sembab tak bernada
Dendang irama tak beraturan dimakan karat hari
Kemantan merentak balai dalam alunan irama tabuhanmu
Hentakannya menggegarkan tamadun
yang semakin terhimpit celah-celah pembusukan
Gerungan mantra mendera kebekuan
Erangan lirih menyayat jangkrik malam enggan bersenandung
Penyigi damar membirukan langit-langit dalam dupamu
Asapnya membumbung menyesakkan penikmat tradisi
Terbatuk-batuk di sudut ngilu pada jejampian
Terkantuk-kantuk menanti dian pengganti kejora malam
Induk longkap membaca tanda alam dalam heningmu
Amarah sejarah tertikam gerusan zaman
Tanda-tanda sudah kabur dan lesap ketika hendak dibaca
Membaca dalam dusta yang telah menganga
Ketobung tetap ditabuh.
Tidak boleh berhenti ditabuh walau dah sumbang berbunyi.

Penulis:
Bambang Kariyawan Ys

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites